Profil Kabupaten Bekasi – Sarana dan Prasarana
Secara umum, bagian ini terbagi menjadi dua, yaitu gambaran umum sarana Kabupaten Bekasi yang terdiri dari listrik, air bersih, telekomunikasi, dan limbah serta gambaran umum prasarana transportasi. Untuk lebih jelasnya akan dijelaskan lebih lanjut pada bagian berikut.

Kebutuhan tenaga listrik di Kabupaten Bekasi sebagian besar disuplai oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan sebagian lainnya oleh perusahaan bukan PLN yang meliputi perusahaan listrik yang dikelola oleh koperasi, pemerintah daerah dan swasta. Daya terpasang selama tahun 2008 dengan 9 Gardu Induk mencapai 474.246 KVA, dan daya yang terjual 885.973.366 KWH. Pelanggan seluruhnya berjumlah 403.270 pelanggan dimana 95,30% diantaranya merupakan pelanggan rumah tangga. Untuk kegiatan industri, penggunaan listrik dari PLN cukup besar yaitu sebanyak 291 unit usaha dengan perkembangan daya terpasang sebesar 26.350.117 KWH. Untuk penyediaan listrik pada Kawasan Industri tersendiri disediakan gardu-gardu khusus dengan kapasitas yang sangat besar dan kualitas listrik yang sangat baik.

Secara umum, pelayanan air minum untuk Kabupaten Bekasi diselenggarakan oleh PDAM Bekasi dan pihak swasta. Di Kabupaten Bekasi terdapat 10 (sepuluh) cabang/unit pelayanan dengan kapasitas total terpasang 555 liter/detik. Sumber air baku untuk penyediaan air minum berasal dari permukaan yaitu Saluran Tarum Barat. Pelayanan air bersih meningkat untuk setiap tahunnya, sampai dengan tahun 2008 daerah pelayanan PDAM Bekasi untuk Kabupaten Bekasi sudah mencakup hampir seluruh kecamatan Produksi air minum PDAM Bekasi untuk wilayah Kabupaten Bekasi pada tahun 2008 adalah 16,87 juta m3 naik 2,66% dari tahun 2007. Sedangkan volume air yang terjual 12,55 juta m3, adapun sisanya adalah berupa kebocoran, kesalahan pencatatan/administrasi dan pemeliharaan. Pelanggan air paling banyak ada pada kelompok rumah tangga, yaitu sebanyak 44.751 pelanggan. Pelanggan PDAM untuk kegiatan industri masih sangat minim, yaitu hanya sebanyak 18 kegiatan. Sedangkan pemakaian air terbanyak ada pada wilayah pelayanan Sukamahi dan Cibarusah, yaitu sebanyak 306.835 m3, sebanyak 13,76% dari total pemakaian air.

Penyediaan telepon sampai dengan tahun 2003 adalah 205.236 unit, belum memenuhi kebutuhan total yang mencapai 266.980 unit, dengan kebutuhan domestik sebesar 205.369 unit dan non-domestik sebesar 61.611 unit. Tingkat pelayanan sambungan telepon pada tahun 2003 di Kabupaten Bekasi telah mencapai 76,87%, sudah cukup baik karena telah memenuhi lebih dari separuh kebutuhan. Sedangkan jumlah menara BTS eksisting di Kabupaten Bekasi sampai dengan tahun 2007 mencapai 524 menara BTS yang tersebar hampir di seluruh Kabupaten Bekasi. Banyaknya menara BTS memperlihatkan tingginya kebutuhan akan telekomunikasi selular yang dipengaruhi oleh tingginya aktivitas perkotaan serta jumlah penduduk.

Keberadaan kawasan-kawasan industri yang sangat besar di Kabupaten Bekasi menghasilkan limbah yang sangat besar sehingga memerlukan sarana pengelolaan limbah cair industri. Perkiraan volume limbah cair dapat didekati dari volume konsumsi air bersih. Sekitar 80 – 90 % dari volume konsumsi air bersih akan menjadi limbah cair. Konsumsi air bersih non domestik (industri) tahun 2003 di Kabupaten Bekasi sebagaimana tertuang dalam Revisi RTRW 1998 – 2003 adalah 76.107.816 liter/hari, maka volume limbah cair yang dihasilkan per hari antara 66.886.252 liter sampai 68.497.034 liter.

Pada saat ini sudah terdapat unit-unit pengelolaan limbah cair industri di Kecamatan Cikarang, Cibitung dan Tambun. Jumlah unit-unit pengelolaan limbah ini masih relatif sedikit dibanding jumlah industri yang ada. Pada tahun 2002 di Kabupaten Bekasi terdapat 129 unit industri dengan total limbah cair 384 ton/bulan.

Kabupaten Bekasi merupakan salah satu mitra ibukota negara, khususnya sebagai sentra produksi dengan keberadaan Kawasan Industri berskala internasional yang sangat membutuhkan fasilitas jalan yang mendukung. Hal tersebut diwujudkan dalam terbukanya akses yang luas ke dalam Kabupaten Bekasi melalui Gerbang Tol Mustikajaya, Cibitung, Cikarang Barat dan Cikarang Timur, dimana pada keempat gerbang tol tersebut volume lalu lintas menunjukan peningkatan volume kendaraan yang sangat signifikan.

Berdasarkan data dari Dinas Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Bekasi tahun 2008, panjang jalan di Kabupaten Bekasi adalah 1012,60 km, terdiri dari jalan tol sepanjang 38,50 km, jalan nasional sepanjang 34,40 km, dan jalan kabupaten sepanjang 393,70 km. Sedangkan menurut sistem dan fungsinya jalan arteri primer sepanjang 34,40 km, arteri sekunder sepanjang 3,60 km, kolektor primer sepanjang 360,83 km, kolektor skunder sepanjang 76,65 km, jalan lokal primer sepanjang 261,72 km dan jalan lokal sekunder sepanjang 170,6 km. Jalan negara seluruhnya diaspal sedangkan jalan kabupaten 46,08% diaspal, 27,92% kerikil, dan 26,00% beton. Kondisi jalan negara termasuk sedang, jalan kabupaten 35,76% baik, sedang 37,06%, rusak 27,18%. Adapun rencana peningkatannya adalah jalan dalam kondisi rusak akan ditingkatkan menjadi sedang dengan ruas jalan kondisi sedang akan ditingkatkan menjadi baik.

Keberadaan infrastruktur jalan berbeda antara satu kecamatan dengan kecamatan lainnya. Pada kecamatan yang terdapat pusat kegiatan ekonomi (industri) maupun pemerintahan, infrastruktur jalan tersedia dengan baik. Sedangkan di kecamatan-kecamatan yang masih didominasi kawasan pertanian, infrastruktur jalan cenderung terbatas dari segi kuantitas maupun kualitas. Pemerintah Kabupaten Bekasi terus berusaha untuk meningkatkan ketersediaan infrastruktur jalan untuk mendukung perkembangan wilayah Kabupaten Bekasi yang menyeluruh.

Ruas jalan arteri primer yang merupakan jalan antar karuasan membentuk pola linier, membentang pada poros barat-timur yaitu dari Kecamatan Cikarang Timur (batas Kabupaten Karajalang) sampai ke Kecamatan Tambun Selatan (batas Kota Bekasi). Dengan letak yang sejajar dengan jalan tol Jakarta-Cikampek serta adannya jalan industri dan akses tol sebagai ruas arteri sekunder yang berdekatan dengan jalur utama tersebut maka seluruh jalur distribusi utama regional ini terkonsentrasi di bagian tengah Kabupaten Bekasi. Jalan kolektor yang berfungsi sebagai pengumpan (feeder) dari tiap kawasan wilayah Bekasi dengan jalur utama ini membentuk simpul yang berkembang menjadi pusat-pusat kegiatan perekonomian masyarakat yang menyebabkan beban lalulintas poros barat-timur sangat berat dibandingkan ruas jalan lainnya.

Ruas-ruas jalan kolektor primer dan kolektor sekunder yang tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Bekasi yang menghubungkan antar kecamatan, desa, kampung dan lingkungan membentuk pola grid (kotak) terutama diwilayah Kabupaten Bekasi sebelah selatan dan tengah. Sedangkan disebelah utara dan timur, pola jaringan jalannya membentuk jalan melingkar yang membentang dari Kecamatan Muara Gembong sampai Kecamatan Kedung Waringin. Pola grid jaringan jalan antar ruas jalan kolektor tersebut membentuk simpul-simpul yang berkembang menjadi sub pusat perekonomian masyarakat menyebabkan beban lalu lintas cukup tinggi pada ruas-ruas jalan kolektor primer sebagai poros utara-tengah dan selatan-tengah yang merupakan akses distribusi utama interregional yang menghubungkan antar karuasan di seluruh wilayah Bekasi, seperti pada ruas jalan Cikarang Utara-Cibarusah, Cibitung-setu, Babelan-Tambun Utara, Tambelang-Cibitung dan Sukatani-Cikarang Utara, seluruh ruas jalan tersebut berada di sebelah barat, utara, selatan, dan tengah wilayah kabupaten Bekasi. Sedangkan akses distribusi utama inter-regional sebagai poros utara-tengah dan tengah selatan di sebelah timur wilayah Bekasi yang dilayani oleh ruas jalan Cibarusah-Cikarang Timur dan ruas jalan Muara Gembong-Kedung Waringin memiliki beban lalu lintas relatif rendah.

Kabupaten Bekasi merupakan salah satu daerah penyangga ibukota negara. Sebagai daerah penyangga, terutama dalam hal pemukiman sangat dibutuhkan fasilitas jalan yang mendukung. Di antaranya adalah jalan tol Cibitung dan Cikarang. Di kedua gerbang tol tersebut volume lalu lintas menunjukkan peningkatan. Pada tahun 2008, Volume kendaraan meningkat 6,27 % dari tahun sebelumnya. Di sisi lain, Kereta api merupakan sarana angkutan yang banyak digunakan masyarakat Bekasi. Stasiun kereta api yang berlokasi di Kabupaten Bekasi adalah Stasiun Tambun, Cikarang dan Lemahabang. Dari ketiga stasiun tersebut, selama tahun 2008 penumpang kereta api berjumlah 1.228.257 orang, atau naik sebesar 30,97 % dibandingkan tahun 2007.

Keberadaan Kabupaten Bekasi sebagai sentra produksi nasional yang ditujukkan oleh keberadaan Kawasan Industri yang sangat luas menjadikan sistem angkutan barang menjadi perhatian penting pada transportasi Kabupaten Bekasi. Sistem angkutan barang diarahkan hanya melintasi jalan primer dan jalan tol dengan rute untuk angkutan penumpang regional dengan pertimbangan lokasi pergudangan, terminal barang, industri dan pasar. Terdapat banyak permasalahn yang ditemui hal lintasan angkutan barang dan pengawasannya. Di salah satu pihak rute angkutan barang telah disesuaikan dengan kelas jalan tinggi sesuai kekuatan konstruksinya, tetapi angkutan barang masih melewati jalan kelas rendah karena keberadaan sebagian industri di kawasan permukiman dimana distribusi produk dan bahan baku produksi melalui jalan tersebut. Permasalahan lain ialah terdapat beberapa pangkalan angkutan barang di pinggir jalan yang menimbulkan permasalahan lalu lintas dan lingkungan. Selain itu, adanya outlet produksi kawasan industri Kabupaten Bekasi yang terpusat ke Tanjung Priok melalui jalan Tol yang sudah sangat padat menimbulkan beban lalu lintas yang jauh lebih tinggi.

Sumber : http://phki.pl.itb.ac.id/

Back to top
Close Offcanvas Sidebar